Sabtu sore tanpa aktivitas, aku duduk di
balik jendela kamar sambil memandang langit senja yang semakin gelap tertutup
awan hitam dan aku yakin sebentar lagi menumpahkan hujan deras. Benar saja,
gerimis mulai membasahi tanah kering halaman rumah beberapa menit kemudian. Ah,
seperti peramal saja aku ini. Dan ya, aroma tanah basah semerbak terhirup oleh
hidungku yang membuka memori tentang sesuatu yang tak juga dapat aku lupakan
beberapa tahun terkhir. Selalu saja begini, tapi setidaknya aku bisa pura-pura melupakan
itu.
Di belakang ku, Bunga sedang sibuk mencari
buku-buku referensi untuk tugasnya.
“Dhania, dimana kamu meletakkan buku sosiolinguistik?”
“Sepertinya masih di laci meja, belum ku
kembalikan ke rak buku. Coba cari disana, aku akan membuat coklat panas
sebentar di dapur.”
“Iya Dhan, sekalian buatkan aku ya.”
“Siap, kurang baik apa aku sama kamu
Bunga.”
Bunga sudah ku angap sebagai saudara ku
sendiri, kami tinggal bersama sejak kelas 3 SMP karena ke-2 orang tuanya
meninggal dalam sebuah kecelakaan maut, hingga sekarang melanjutkan ke
perguruan tinggi dan tinggal di kos yang sama pula. Kami saling berbagi cerita
dan sangat terbuka satu sama lain. Aku mengetahui hampir semua tentang Bunga
begitupun sebaliknya.
Saat aku kembali ke kamar bunga terlihat
sedang memegang dan mengamati dengan seksama 2 buah amplop besar di tangannya
dan ia seperti kaget saat melihatku memasuki kamar. Ku letakkan coklat panas
dan camilan di atas meja dan tidak memperhatikan Bunga lagi.
“Dhan, tadi saat aku mencari buku di laci
meja tidak sengaja menemukan 2 amplop ini. Apa kamu benar-benar belum
membukanya?”
“Apa sih Bunga, sudah lah letakkan saja
amplop itu di laci.”
“Tapi kalau kamu tidak membukanya, kamu
tidak akan pernah tau apa yang sebenarnya terjadi.”
Aku duduk sambil meminum coklat panasku dan
pura-pura tidak mendengar apa yang Bunga katakan.
“Ayolah Dhania cantik, mau sampai kapan?
Ini sudah hampir 2 bulan sejak kamu menerima amplop ini.”
Aku masih pura-pura mendengarkan Bunga
berbicara.
“Oke, kalau kamu tidak mau membukanya
sendiri biarkan saja aku yang membukanya. Kamu tidak peduli kan?”
Dengan gerak refleks aku meletakkan coklat
panasku dan merebut 2 amplop itu dari tangan Bunga.
“Jangan, Bunga! Biar aku yang membukanya
sendiri. Iya, baiklah aku akan membukanya sekarang.”
“Memang harusnya begitu, Dhan.”
Bunga terlihat puas melihatku akhirnya mau
membuka amplop itu. Tepat ketika aku akan membukanya, adzan maghrib
berkumandang, hujan di luar pun belum juga reda.
“Bunga cantik, sebaiknya kita sholat
maghrib dulu. Aku janji setelah sholat nanti aku akan membukanya.”
Bunga mengiyakan ajakanku dan kami
mengambil air wudhu lalu sholat berjamaah seperti biasa.
***
Kami mengambil posisi yang nyaman untuk membuka amplop yang entah apa isinya, tetapiaku
yakin amplop di tanganku ini berisi berlembar-lembar kertas yang penuh dengan
permohonan maaf. Sepertinya aku terlalu percaya diri. Ku pandang lekat-lekat
nama dan alamat pengirim,
Nauval
Sabiq
Jln. Pabelan, Gonilan, Kartosuro
Kota Solo, 57162
Perlahan ku sobek ujung amplop dan membukanya. Ku keluarkan semua
yang ada didalamya, bukan seperti yang ku bayangkan. Selembar kertas dan lima
amplop kecil. Apa ini? Masing-masing amplop bertuliskan angka, mungkin
maksudnya sebagai nomor urut dan selembar kertas itu semacam petunju. Tetapi
aku tidak akan memulai dari selembar kertas itu, aku akan memulai dari amplop
nomor 4. Mengapa nomor 4? Entahlah, alasanku hanya karena 4
adalah tanggal lahir Nauval, itu saja. Amplop nomor 4 hanya berisi selembar kertas.
“Dhan, kenapa amplop nomor 4 dulu? Bukan
kertas kecil?” Protes Bunga.
“Sudah diam saja, kamu ini crewet sekali.”
Solo, 7 Mei 2011
Assalamu’malaikum
Wr. Wb.
Dhania ku yang manis, selamat ulang tahun.
Semoga selalu dalam lindungan Allah. Maaf aku tidak bisa memberikan kado yang
special untuk mu, hanya do’a-do’a yang selalu ku panjatkan agar Dhaniaku selalu
bahagia. Apakah kamu masih menyimpan sorban yan aku berikan ketika ulang tahunm yang ke 18? Tentu saja Dhania
harus masih menyimpannya. Meskipun sudah terlihat lusuh tetapi kau tahu sendiri
kan kemanapun aku selalu memakainya.
Tetapi semua itu tidak penting sekarang, yang
terpenting adalah bagaimana Dhania menerima semua alsan yang aku sampaikan
dalam surat sebelumnya dan tentu saja mau memaafkanku. Aku benar-benar minta
maaf. Aku tau itu tidak mudah, kau pasti marah itu wajar. Tetapi aku tidak
ingin pergi tanpa suatu alasan yang tidak jelas
dan penuh tada tanya apa lagi
meninggalkan kesalahpahaman . Ingat
Dhania, aku tak pernah sedikitpun berniat mengabaikanmu.
Akhir-akhir
ini aku sering bermimpi tentangmu Dhania, mungkin karena rindu atau entah rasa
bersalah yang mengganggu fikiranku. Dan aku tak bisa begitu saja mengabaikan mimpi itu.
Semakin mendekati hari itu semakin aku gelisah dan khawatir kepadamu. Lagi-lagi
hanya kata maaf yang bisa aku katan, di hari ulang tahunmu aku tau surat ini
justru membuatmu sedih atau bahkan semakin membenciku. Tetapi aku yakin Dhania
bisa berfikir dewasa dan memahami situasiku seperti apa. Tetap semangat,
Dhaniaku. Hanya ini yang bisa aku sampaikan.
Wassalamu’alaikum, Wr. Wb.
Salam manis,
Nauval Sabiq
Setelah selesai membaca surat itu aku
memandang wajah Bunga, dan sebaliknya. Kami bingung.
“Dhan, 7 Mei 2011? Itu artinya surat ini
ditulis hampir 4 tahun yang lalu? Dan isinya, Maksudnya apa?”
Dengan mimik serius ia bertanya perihal
surat itu kepadaku.
“Aku juga tidak mengerti, Bunga.”
Dengan pikiran yang masih dipenuhi
kebingungan dan penasaran aku melipat kembali surat itu dan memasukkannya ke
dalam amplop nomor 4 kembali. Ku pandang satu persatu amplop-amplop kecil itu.
Apa maksud semua ini?

Tidak ada komentar:
Posting Komentar