Jumat, 28 Agustus 2015

Cerpen - Elegi Amplop Terakhir (Eps.2)




Meskipun aku begitu penasaran tetapi aku belum berniat untuk membuka mplop-amplop yang lain karena tepat setelah  selesai membaca isi amplop nomor 4, adzan isya berkumandang.
“Dhan ayo dong buka amplopnya yang lain. Aku penasaran sebenarnya ada apa dengan Nauval.”
“Sabar dong, kalau kamu penasaran apa lagi aku? Sudah lah kita sholat Maghrib dulu terus makan malam, setelah itu kita lanjutkan amplop-amplop ini. Oke?”
“Oke lah, ayo ambil air wudhu dulu.” Dengan wajah yang terlihat engan Bunga beranjak untuk mengambil air wudhu. Aku masih merapikan amplop-amplop itu dan meletakkanya ke dalam laci. Selama sholat bahkan aku benar-benar tidak khusyu’, makan malam pun hanya beberapa suap yang ku habiskan. aku terus saja terganggu surat tadi. Mengapa tanggalnya sudah begitu lama? Tetapi baru sampai sekitar 2 bulan yang lalu.
“Nambah lagi Dhan, sedikit sekali makanmu. Ah, pasti kau memikirkannya.”
Aku hanya membalas dengan senyum malas tanpa berkata apapun.

Ku mulai lagi dengan amplop kecil yang hanya berisi selembar kertas.

Solo, 7 Mei 2012
Assalamu’malaikum Wr. Wb.
Dhania, Dhania, Dhania. Aku bisa gila terus-menerus memikirkanmu. Atau mungkin aku memang sudah gila, entahlah. Maafkan aku tidak mempunyai keberanian untuk menemuimu, bahkan untuk menulis surat pun aku berfikir berkali-kali, aku pun tak yakin apakah akan benar-benar mengirimkannya.  Mungkin kau bingung mengapa ada beberapaa amplop disini, tetapi jika kau membaca sesuai urutan kau akan mengerti. Karena itu semua ku tulis di waktu dan tempat yang berbeda.
Sudah ya Dhania manis, kau tinggal membaca surat itu sesuai urutan dan kau akan mengerti mengapa sekian lama aku tidak menghubungimu. Jangan menghawatirkanku.

Salam Rindu
Nauval Sabiq

Aku agak kesal membaca surat singkat itu, dengan percaya diri dia mengatakan “Jangan mengkhawatirkanku”. Dia tidak tau bagaimana gilanya aku berusaha menenangkan diri setelah sekian lama tidak ada kabar darinya. Bunga yang juga ikut membaca surat itu seakan mengerti maksud dari raut wajahku, ia justru tertawa dengan bahagianya. Jarak waktu amplop ke 4 dengan selembar kertas ini lama sekali, 1 tahun.
“Tidak ada yang lucu, Bunga”
“Tidak lucu bagaimana?  Ekspresi wajahmu itu lho, mata terbelak, bibir ditarik keatas samping sebegitu sinisnya, jelek sekali Dhania.”
“Sudah-sudah, tidak penting seperti apa ekspresiku sekarang. Lebih baik kita lanjutkan saja ke amplop nomor 1.”
Bunga dengan segera mengambil amplop nomor 1.
“Eits, aku dong yang buka, kan ini buat aku, kamu Cuma numpang baca. Haha” Gantian aku yang menggoda Bunga sekarang, sambil merebut amplop itu dari tangannya.
“Iya iya, ambil lah itu semua amplop.”
“Eh jangan marah seperti itu, aku hanya bercanda.”
Lalu Bunga hanya membalasnya dengan senyum yang menandakan bahwa ia tidak marah kepadaku. Kami pun mulai membaca isi amplop tersebut.


Lombok, 29 Januari  2010

Assalamu’malaikum Wr. Wb.
Salam manis selalu untuk Dhaniaku. Bagaimana kabrmu? Baik-baki saja kah? Sehat? Aku sangat merindukanmu. Hampir dua tahun sejak terakhir kali kita bertemu, aku ingat betul hari itu. Ulang tahunmu yang ke-18 kita merayakannya di halaman belakang rumahmu, dan tiba-tiba hujan turun begitu saja, aroma tanah basah yang khas setelah hujan turun begitu terasa, sederhana tapi aku selalu mengigatnya. Tentu saja, tidak ada sedikitpun yang aku lupakan tentang dirimu, dan semua yang terjadi di antara kita.
Bagaimana dengan belajarmu? Apakah kau sudah kuliah sekarang? Kau masih berambisi dengan bahasa perancis? Dulu kau sering sekali mengatakan ingin berkunjung ke negaranya Maria Antoinette untuk melihat maha karya dunia seni disana. Dan bukankah akan lebih romantis jika kita pergi bersama? Ah, tentu saja, membayangkannya pun membuatku senyum-senyum sendiri. Terus berusaha keras Dhania, untuk membuat mimpi-mimpimu menjadi nyata. Kau tau? Aku selalu menyelipkan namamu dalam do’a-do’aku, selalu.
Pertama-tama kau pasti bertanya-tanya mengapa aku menghilang setelah hari itu tanpa memberi kabar sedikitpun, aku tau kau pasti mencoba menghubungiku berkali-kali. Maaf Dhania aku sengaja menghilang, semua akunku non-aktif, bahkan nomor handphone pun ku ganti. Jangan khawatir Dhania, aku baik-baik saja. Aku melakukan itu semua karena suatu alasan yang nantinya kau akan tau sendiri, tidak sekarang, mungkin suatu saat nanti ketika kita bertemu kembali aku akan menceritakan semuanya. Meskipun sekarang teknologi sudah canggih dan aku bisa memberi kabar melalui e-mail, friendster, facebook atauyang lain tetapi aku memilih menggunakan surat ini, tulisan tanganku sendiri yang aku pikir akan lebih romantis, benar kan? Kau suka hal-hal yang romantis. Dhania, Surat ini hanya sapaan saja, dan menandakan bahwa aku masih hidup. Kau tidak berfikiran aku sudah mati kan? Haha lucu sekali, pasti kau pernah berfikir seperti itu.
Apakah kau tau sekarang aku berada dimana? Ah konyol sekali pertanyaanku, jelas aku sudah menuliskan tempatnya, iya sekarang aku ada di lombok Dhania. Banyak tempat yang indah disini, pantai-pantai dengan pasir putihnya, Ya Tuhan, jikalau aku diberi umur panajang aku akan mengajakmu ke tempat ini, aku berjanji. Bukan hanya lombok, seluruh Indonesia, kita akan mengelilinginya bersama suatu hari nanti. Bersabarlah menunggu waktu yang tepat untuk semua itu, Dhania. Kau masih menyimpan cinta kita kan? Harus! Kau harus masih menyimpannya untuk ku.
Untuk saat ini aku hanya hanya bisa meminta maaf telah membuatmu hidup dalam kegelisahan dan penuh tanda tanya. Sedemikian rupa aku mengkamuflasekan rindu dalam raut tegar tanpa harap, saat itulah hati terbungkam dengan ketidak adilan yang kubuat sendiri.Pada saatnya aku akan membayar lunas semua hutang rinduku padamu. Tunggu aku kembali, Dhania.

Salam Rindu
Nauval Sabiq
“Bunga, aku bisa gila membaca surat seperti ini yang ditulis 5 tahun lalu. Aku tidak salah perhitungan kan? 5 tahun.” Aku menerawang jauh dengan surat yang masih tergantung lemas di tangan kananku.
“Iya Dha, kau benar. 5 tahun.”

Kamis, 20 Agustus 2015

Cerpen - Elegi Amplop Terakhir (Eps.1)



Sabtu sore tanpa aktivitas, aku duduk di balik jendela kamar sambil memandang langit senja yang semakin gelap tertutup awan hitam dan aku yakin sebentar lagi menumpahkan hujan deras. Benar saja, gerimis mulai membasahi tanah kering halaman rumah beberapa menit kemudian. Ah, seperti peramal saja aku ini. Dan ya, aroma tanah basah semerbak terhirup oleh hidungku yang membuka memori tentang sesuatu yang tak juga dapat aku lupakan beberapa tahun terkhir. Selalu saja begini, tapi setidaknya aku bisa pura-pura melupakan itu.
Di belakang ku, Bunga sedang sibuk mencari buku-buku referensi untuk tugasnya.
“Dhania, dimana kamu meletakkan buku sosiolinguistik?”
“Sepertinya masih di laci meja, belum ku kembalikan ke rak buku. Coba cari disana, aku akan membuat coklat panas sebentar di dapur.”
“Iya Dhan, sekalian buatkan aku ya.”
“Siap, kurang baik apa aku sama kamu Bunga.”
Bunga sudah ku angap sebagai saudara ku sendiri, kami tinggal bersama sejak kelas 3 SMP karena ke-2 orang tuanya meninggal dalam sebuah kecelakaan maut, hingga sekarang melanjutkan ke perguruan tinggi dan tinggal di kos yang sama pula. Kami saling berbagi cerita dan sangat terbuka satu sama lain. Aku mengetahui hampir semua tentang Bunga begitupun sebaliknya.
Saat aku kembali ke kamar bunga terlihat sedang memegang dan mengamati dengan seksama 2 buah amplop besar di tangannya dan ia seperti kaget saat melihatku memasuki kamar. Ku letakkan coklat panas dan camilan di atas meja dan tidak memperhatikan Bunga lagi.
“Dhan, tadi saat aku mencari buku di laci meja tidak sengaja menemukan 2 amplop ini. Apa kamu benar-benar belum membukanya?”
“Apa sih Bunga, sudah lah letakkan saja amplop itu di laci.”
“Tapi kalau kamu tidak membukanya, kamu tidak akan pernah tau apa yang sebenarnya terjadi.” 
Aku duduk sambil meminum coklat panasku dan pura-pura tidak mendengar apa yang Bunga katakan.
“Ayolah Dhania cantik, mau sampai kapan? Ini sudah hampir 2 bulan sejak kamu menerima amplop ini.”
Aku masih pura-pura mendengarkan Bunga berbicara.
“Oke, kalau kamu tidak mau membukanya sendiri biarkan saja aku yang membukanya. Kamu tidak peduli kan?”
Dengan gerak refleks aku meletakkan coklat panasku dan merebut 2 amplop itu dari tangan Bunga.
“Jangan, Bunga! Biar aku yang membukanya sendiri. Iya, baiklah aku akan membukanya sekarang.”
“Memang harusnya begitu, Dhan.”
Bunga terlihat puas melihatku akhirnya mau membuka amplop itu. Tepat ketika aku akan membukanya, adzan maghrib berkumandang, hujan di luar pun belum juga reda.
“Bunga cantik, sebaiknya kita sholat maghrib dulu. Aku janji setelah sholat nanti aku akan membukanya.”
Bunga mengiyakan ajakanku dan kami mengambil air wudhu lalu sholat berjamaah seperti biasa.

***

Kami mengambil posisi yang nyaman untuk membuka amplop yang entah apa isinya, tetapiaku yakin amplop di tanganku ini berisi berlembar-lembar kertas yang penuh dengan permohonan maaf. Sepertinya aku terlalu percaya diri. Ku pandang lekat-lekat nama dan alamat pengirim,

Nauval Sabiq
Jln. Pabelan, Gonilan, Kartosuro
Kota Solo, 57162
Perlahan ku sobek ujung amplop dan membukanya. Ku keluarkan semua yang ada didalamya, bukan seperti yang ku bayangkan. Selembar kertas dan lima amplop kecil. Apa ini? Masing-masing amplop bertuliskan angka, mungkin maksudnya sebagai nomor urut dan selembar kertas itu semacam petunju. Tetapi aku tidak akan memulai dari selembar kertas itu, aku akan memulai dari amplop nomor 4. Mengapa nomor 4? Entahlah, alasanku hanya karena 4 adalah tanggal lahir Nauval, itu saja. Amplop nomor 4 hanya berisi selembar kertas.
“Dhan, kenapa amplop nomor 4 dulu? Bukan kertas kecil?” Protes Bunga.
“Sudah diam saja, kamu ini crewet sekali.”

Solo, 7 Mei 2011
Assalamu’malaikum Wr. Wb.
Dhania ku yang manis, selamat ulang tahun. Semoga selalu dalam lindungan Allah. Maaf aku tidak bisa memberikan kado yang special untuk mu, hanya do’a-do’a yang selalu ku panjatkan agar Dhaniaku selalu bahagia. Apakah kamu masih menyimpan sorban yan aku berikan ketika ulang tahunm yang ke 18? Tentu saja Dhania harus masih menyimpannya. Meskipun sudah terlihat lusuh tetapi kau tahu sendiri kan kemanapun aku selalu memakainya.
Tetapi semua itu tidak penting sekarang, yang terpenting adalah bagaimana Dhania menerima semua alsan yang aku sampaikan dalam surat sebelumnya dan tentu saja mau memaafkanku. Aku benar-benar minta maaf. Aku tau itu tidak mudah, kau pasti marah itu wajar. Tetapi aku tidak ingin pergi tanpa suatu alasan yang tidak jelas dan  penuh tada tanya apa lagi meninggalkan kesalahpahaman .  Ingat Dhania, aku tak pernah sedikitpun berniat mengabaikanmu.
Akhir-akhir ini aku sering bermimpi tentangmu Dhania, mungkin karena rindu atau entah rasa bersalah yang mengganggu fikiranku. Dan aku tak bisa begitu saja mengabaikan mimpi itu. Semakin mendekati hari itu semakin aku gelisah dan khawatir kepadamu. Lagi-lagi hanya kata maaf yang bisa aku katan, di hari ulang tahunmu aku tau surat ini justru membuatmu sedih atau bahkan semakin membenciku. Tetapi aku yakin Dhania bisa berfikir dewasa dan memahami situasiku seperti apa. Tetap semangat, Dhaniaku. Hanya ini yang bisa aku sampaikan.

Wassalamu’alaikum, Wr. Wb.
Salam manis,
Nauval Sabiq
Setelah selesai membaca surat itu aku memandang wajah Bunga, dan sebaliknya. Kami bingung.
“Dhan, 7 Mei 2011? Itu artinya surat ini ditulis hampir 4 tahun yang lalu? Dan isinya, Maksudnya apa?”
Dengan mimik serius ia bertanya perihal surat itu kepadaku.
“Aku juga tidak mengerti, Bunga.”
Dengan pikiran yang masih dipenuhi kebingungan dan penasaran aku melipat kembali surat itu dan memasukkannya ke dalam amplop nomor 4 kembali. Ku pandang satu persatu amplop-amplop kecil itu. Apa maksud semua ini?