Meskipun aku begitu penasaran tetapi aku
belum berniat untuk membuka mplop-amplop yang lain karena tepat setelah selesai membaca isi amplop nomor 4, adzan
isya berkumandang.
“Dhan ayo dong buka amplopnya yang lain.
Aku penasaran sebenarnya ada apa dengan Nauval.”
“Sabar dong, kalau kamu penasaran apa lagi
aku? Sudah lah kita sholat Maghrib dulu terus makan malam, setelah itu kita
lanjutkan amplop-amplop ini. Oke?”
“Oke lah, ayo ambil air wudhu dulu.” Dengan
wajah yang terlihat engan Bunga beranjak untuk mengambil air wudhu. Aku masih
merapikan amplop-amplop itu dan meletakkanya ke dalam laci. Selama sholat
bahkan aku benar-benar tidak khusyu’, makan malam pun hanya beberapa suap yang
ku habiskan. aku terus saja terganggu surat tadi. Mengapa tanggalnya sudah
begitu lama? Tetapi baru sampai sekitar 2 bulan yang lalu.
“Nambah lagi Dhan, sedikit sekali makanmu.
Ah, pasti kau memikirkannya.”
Aku hanya membalas dengan senyum malas
tanpa berkata apapun.
Ku mulai lagi dengan amplop kecil yang
hanya berisi selembar kertas.
Solo, 7 Mei 2012
Assalamu’malaikum
Wr. Wb.
Dhania, Dhania, Dhania. Aku bisa gila terus-menerus
memikirkanmu. Atau mungkin aku memang sudah gila, entahlah. Maafkan aku tidak
mempunyai keberanian untuk menemuimu, bahkan untuk menulis surat pun aku
berfikir berkali-kali, aku pun tak yakin apakah akan benar-benar
mengirimkannya. Mungkin kau bingung
mengapa ada beberapaa amplop disini, tetapi jika kau membaca sesuai urutan kau
akan mengerti. Karena itu semua ku tulis di waktu dan tempat yang berbeda.
Sudah ya Dhania manis, kau tinggal membaca surat itu
sesuai urutan dan kau akan mengerti mengapa sekian lama aku tidak
menghubungimu. Jangan menghawatirkanku.
Salam Rindu
Nauval Sabiq
Aku agak kesal membaca surat singkat itu,
dengan percaya diri dia mengatakan “Jangan mengkhawatirkanku”. Dia tidak tau
bagaimana gilanya aku berusaha menenangkan diri setelah sekian lama tidak ada
kabar darinya. Bunga yang juga ikut membaca surat itu seakan mengerti maksud
dari raut wajahku, ia justru tertawa dengan bahagianya. Jarak waktu amplop ke 4
dengan selembar kertas ini lama sekali, 1 tahun.
“Tidak ada yang lucu, Bunga”
“Tidak lucu bagaimana? Ekspresi wajahmu itu lho, mata terbelak,
bibir ditarik keatas samping sebegitu sinisnya, jelek sekali Dhania.”
“Sudah-sudah, tidak penting seperti apa
ekspresiku sekarang. Lebih baik kita lanjutkan saja ke amplop nomor 1.”
Bunga dengan segera mengambil amplop nomor
1.
“Eits, aku dong yang buka, kan ini buat
aku, kamu Cuma numpang baca. Haha” Gantian aku yang menggoda Bunga sekarang,
sambil merebut amplop itu dari tangannya.
“Iya iya, ambil lah itu semua amplop.”
“Eh jangan marah seperti itu, aku hanya
bercanda.”
Lalu Bunga hanya membalasnya dengan senyum
yang menandakan bahwa ia tidak marah kepadaku. Kami pun mulai membaca isi
amplop tersebut.
Lombok, 29 Januari 2010
Assalamu’malaikum
Wr. Wb.
Salam manis selalu
untuk Dhaniaku. Bagaimana kabrmu? Baik-baki saja kah? Sehat? Aku sangat
merindukanmu. Hampir dua tahun sejak terakhir kali kita bertemu, aku ingat
betul hari itu. Ulang tahunmu yang ke-18 kita merayakannya di halaman belakang
rumahmu, dan tiba-tiba hujan turun begitu saja, aroma tanah basah yang khas
setelah hujan turun begitu terasa, sederhana tapi aku selalu mengigatnya. Tentu
saja, tidak ada sedikitpun yang aku lupakan tentang dirimu, dan semua yang
terjadi di antara kita.
Bagaimana dengan
belajarmu? Apakah kau sudah kuliah sekarang? Kau masih berambisi dengan bahasa
perancis? Dulu kau sering sekali mengatakan ingin berkunjung ke negaranya Maria Antoinette untuk melihat maha karya dunia
seni disana. Dan bukankah akan lebih romantis jika kita pergi bersama? Ah,
tentu saja, membayangkannya pun membuatku senyum-senyum sendiri. Terus berusaha
keras Dhania, untuk membuat mimpi-mimpimu menjadi nyata. Kau tau? Aku selalu
menyelipkan namamu dalam do’a-do’aku, selalu.
Pertama-tama kau pasti
bertanya-tanya mengapa aku menghilang setelah hari itu tanpa memberi kabar
sedikitpun, aku tau kau pasti mencoba menghubungiku berkali-kali. Maaf Dhania
aku sengaja menghilang, semua akunku non-aktif, bahkan nomor handphone pun ku
ganti. Jangan khawatir Dhania, aku baik-baik saja. Aku melakukan itu semua
karena suatu alasan yang nantinya kau akan tau sendiri, tidak sekarang, mungkin
suatu saat nanti ketika kita bertemu kembali aku akan menceritakan semuanya.
Meskipun sekarang teknologi sudah canggih dan aku bisa memberi kabar melalui
e-mail, friendster, facebook atauyang lain tetapi aku memilih menggunakan surat
ini, tulisan tanganku sendiri yang aku pikir akan lebih romantis, benar kan?
Kau suka hal-hal yang romantis. Dhania, Surat ini hanya sapaan saja, dan
menandakan bahwa aku masih hidup. Kau tidak berfikiran aku sudah mati kan? Haha
lucu sekali, pasti kau pernah berfikir seperti itu.
Apakah kau tau sekarang
aku berada dimana? Ah konyol sekali pertanyaanku, jelas aku sudah menuliskan
tempatnya, iya sekarang aku ada di lombok Dhania. Banyak tempat yang indah
disini, pantai-pantai dengan pasir putihnya, Ya Tuhan, jikalau aku diberi umur
panajang aku akan mengajakmu ke tempat ini, aku berjanji. Bukan hanya lombok,
seluruh Indonesia, kita akan mengelilinginya bersama suatu hari nanti.
Bersabarlah menunggu waktu yang tepat untuk semua itu, Dhania. Kau masih
menyimpan cinta kita kan? Harus! Kau harus masih menyimpannya untuk ku.
Untuk saat ini aku
hanya hanya bisa meminta maaf telah membuatmu hidup dalam kegelisahan dan penuh
tanda tanya. Sedemikian rupa aku mengkamuflasekan rindu
dalam raut tegar tanpa harap, saat itulah hati terbungkam dengan ketidak adilan
yang kubuat sendiri.Pada saatnya aku akan
membayar lunas semua hutang rinduku padamu. Tunggu aku kembali, Dhania.
Salam Rindu
Nauval Sabiq
“Bunga, aku bisa gila membaca surat seperti
ini yang ditulis 5 tahun lalu. Aku tidak salah perhitungan kan? 5 tahun.” Aku
menerawang jauh dengan surat yang masih tergantung lemas di tangan kananku.
“Iya Dha, kau benar. 5 tahun.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar